Selasa, 02 Oktober 2018

Landasan teoritis anak Tunagrahita Sedang


BAB II
LANDASAN TEORITIS
Anak Tunagrahita Sedang

A.   Anak Tunagrahita.
1.    Pengertian.
Anak tunagrahita dikenal dalam bermacam-macam istilah baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa asing. Istilah yang dikemukakan oleh Ingals (1978) dalam Astati (2010:5) yaitu: mental retardation, mental deficiency, mentally defective, mentally handicapped, feeblemineness, mental subnormality, amentia, and oligophrenia.
Salah satu definisi yang dikenal dan diterima secara luas adalah definisi yang dikemukakan American Association on Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip Grossman (Hallahan & Kauffman, 1988) dalam Astati (2010:14) bahwa “Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum secara nyata (signifikan) berada di bawah rata-rata normal bersamaan dengan kekurangan dalam tingkah laku penyesuaian dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan”.
Berdasarkan pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa tunagrahita mengacu pada fungsi intelektual umum yang nyata di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan (sebelum usia 18 tahun). Ada tiga kategori untuk menentukan seseorang dapat dikatakan tunagrahita yaitu: pertama kecerdasan di bawah rata-rata, kedua ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri, dan yang terakhir ketunagrahitaan itu terjadi pada usia perkembangan.
2.      Karakteristrik.
Anak tunagrahita memiliki beberapa karakteristik yang tentunya berbeda dengan anak normal pada umumnya. Hal ini menjadi penghambat anak tunagrahita dalam melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari, karakteristik ini juga dapat digunakan sebagai acuan guru dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak tunagrahita.
Karakteristik anak tunagrahita pada umumnya dikemukakan oleh Page (Suhaeri; 1979:25) dalam Astati & Mulyati (2010:15) sebagai berikut:
a.         Kecerdasan, kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (Rote learning) bukan dengan pengertian. Dari hari ke hari dibuatnya kesalahan-kesalahan yang sama. Perkembangan mentalnya mencapai puncak pada usia yang masih muda.
b.         Sosial, dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara dan memimpin diri. Waktu masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus; disuapi makanan, dipasangkan dan ditanggali pakaian dan sebagainya; disingkirkan dari bahaya, diawasi waktu bermain dengan anak lain, bahkan ditunjuki terus menerus yang harus dikerjakan. Mereka bermain dengan teman-teman yang lebih muda daripadanya, tidak dapat bersaing dengan teman sebaya. Setelah dewasa kepentingan ekonominya sangat tergantung pada bantuan orang lain. Tanpa bimbingan dan pengawasan mereka dapat terjerumus kedalam tingkah laku yang terlarang terutama mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual. Dilihat dasi sosial age (SA) mereka juga sangat kecil SQnya. (SQ adalah singkatan dari kata “Social Quotient” seperti halnya IQ untuk kecerdasan).
c.         Fungsi-fugsi mental lain, mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian. Jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu ingatan. Kurang mampu membuat asosiasi-asosiasi dan sukar mebuat kreasi-kreasi baru.
d.        Dorongan dan emosi, perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Anak yang berat dan sangat berat tingkat ketunagrahitaannya, hampir-hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri. Kalau mereka lapar atau haus, mereka tidak menunjukan tanda-tandanya. Demikian pula kalau mereka mendapat perangsang yang menyakitkan hampir-hampir tidak memiliki kemampuan menjauhkan dirinya dari perangsang tersebut. Kehidupan emosiya lemah. Jika telah mencapai umur belasan tahun dorongan biologisnya biasanya berkembang dengan baik  kecuali hubungan heteroseksual tetapi kehidupan penghayatannya terbatas pada perasaan-perasaan; senang, takut,marah, benci dan kagum. Anak yang tidak terlalu berat ketunagrahitaannya mempunyai kehdupan emosi yang hampir sama dengan anak normal tetapi kurang kaya, kurang kuat dan kurang banyak mempunyai keragaman. Mereka jarang sekali menghayati perasaan banga, tanggungjawab dan hak sosial.
e.           Organisme, baik struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerak lagaknya kurang indah. Diantaranya banyak yang mengalami cacat bicara. Mereka kurang mampu membedakan persamaan dan perbedaan. Pendengaran dan penglihatannya banyak yang kurang sempurna. Anak yang berat apalagi sangat berat ketunagrahitaannya kurang rentan dalam perasaan sakit, bau yang tidak enak dan makanan yang tidak enak. Badannya relatif kecil seperti kurang segar. Tenaganya kurang, cepat letih, kurang mempunyai daya tahan.

Sejalan dengan pemaparan diatas dapat peneliti simpulkan bahwa pendidikan anak tunagrahita baik ringan, sedang maupun berat harus disesuaikan dengan kemampuan anak karena anak tunagrahita memiliki daya ingat di bawah rata-rata begitupun dalam segi emosional dan sosialisasi mereka mengalami hambatan untuk itu maka sebaiknya guru harus lebih sering mengajak anak tunagrahita berkomunikasi dengan masyarakat sekitar atau dengan anak normal seusianya. Agar di masa depan   anak   tidak   terlalu  mengalami  kesulitan  dalam  bergaul  dengan masyarakat dimana mereka tinggal.
3.      Klasipikasi.
Pengklasifikasian     anak     tunagrahita     perlu     dilakukan    untuk mempermudah dalam memberikan pelayanan pendidikannya. Mereka dapat dibedakan dalam beberapa kelompok berdasarkan taraf kemampuan intelegensinya. Berdasarkan taraf intelegensinya, American Association on Mental Deficiency, Hallahan (1982:43) dalam Astati (2010:15) mengelompokkan sebagai berikut:
Tabel 2.1
Klasifikasi anak tunagrahita
Hallahan (1982:43) dalam Astati (2010:15)

Kelompok
Tingkat IQ
Tunagrahita ringan
55 – 70
Tunagrahita sedang
40 – 55
Tunagrahita berat
25 – 40
Tunagrahita sangat berat
<25

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita terdiri dari anak tunagrahita ringan yang mempunyai tingkat kecerdasan antara 55 – 70, anak tunagrahita sedang yang mempunyai tingkat kecerdasan antara 40 - 55, anak tunagrahita berat yang mempunyai tingkat kecerdasan antara 25 – 40 dan anak tunagrahita sangat berat yang mempunyai tingkat kecerdasan kurang dari 25. Menurut Somantri (2012:121) bahwa: “Pengelompokkan pada umumnya didasarkan pada taraf intelegensinya, yang terdiri dari keterbelakangan ringan, sedang dan berat”.
Pengklasifikasian   anak  tunagrahita   sesuai   tingkat  intelegensinya
menurut  Somantri (2012:121) sebagai berikut:
a.          Anak Tunagrahita Ringan
Tunagrahita  ringan disebut  juga moron  atau debil. Kelompok ini
memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana.
b.         Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang disebut juga imbesil dan memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 pada skala Weschler (WISC). Mereka dapat  dididik  mengurus diri sendiri, melindungi  diri dari bahaya.
c.          Tunagrahita Berat
Kelompok anak tunagrahita berat disebut idiot. Kelompok ini memiliki IQ 32-20 pada skala Binet dan 39-25 pada skala Weschler (WISC). Mereka memerlukan bantuan perawatan  secara  total  dalam  hal  berpakaian,  mandi,  makan dan lain-lain.

Dari uraian  di atas dapat disimpulkan bahwa intelegensi tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi tunagrahita ringan, sedang dan berat.
4.    Pendidikan.
          Anak tunagrahita memiliki kebutuhan khusus untuk mengoptimalkan potensinya. Astati dan Mulyati  (2010:25)  tentang   kebutuhan   khusus   mengemukakan  sebagai berikut:
a.         Kebutuhan dalam layanan pembelajaran.
Anak-anak tunagrahita memiliki potensi dalam belajar dan erat   
kaitannya dengan berat dan ringannya ketunagrahitaan. Kebutuhan khusus yang dimaksud adalah:
1)   Kebutuhan layanan pengajaran yang sama dengan siswa lainnya. Mereka hanya membutuhkan tambahan pengertian guru dan teman-temannya, tambahan waktu untuk dapat mempelajari sesuatu.
2)   Kebutuhan layanan pembelajaran yang sangat khusus mereka membutuhkan layanan, seperti program stimulasi dan intervensi dini meliputi : terapi bermain, okupasi, terapi bicara, kemampuan memelihara diri dan belajar akademik.
b.         Kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar.
Mereka membutuhkan lingkungan belajar seperti pengaturan tempat  duduk  yang disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita.
c.          Kebutuhan     dalam    pengembangan     kemampuan    bina   diri.
Anak   tunagrahita   membutuhkan   konteks  dan  orientasi  cerita
yang dimulai dari hal yang konkret kemudian menuju ke hal abstrak.
d.        Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan sosial dan emosi.
Dalam   hal   berinteraksi  membutuhkan  hal-hal   ini:  kebutuhan
untuk merasa menjadi bagian dari yang lain, kebutuhan untuk menemukan perlindungan dari label yang negativ, kebutuhan akan kenyamanan sosial, dan kebutuhan untuk menghilangkan kebosanan dengan adanya stimulasi sosial.
e.         Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan keterampilan.
Beberapa keunggulan tunagrahita yang akan membawa mereka pada hubungannya dengan orang lain meliputi : 1) spontanitas yang wajar dan positif, 2) kecenderungan untuk merespon orang lain dengan baik dan hangat, 3) kecenderungan merespon pada orang lain dengan jujur, dan 4) kecenderunagn untuk mempercayai orang lain.

Berdasarkan kutipan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa anak tunagrahita ringan mempunyai kebutuhan yang sama halnya dengan anak normal. Untuk memenuhi kebutuhannya, anak tunagrahita perlu mendapatkan perhatian secara khusus agar mereka memperoleh kebutuhan-kebutuhan sebagaimana diuraikan di atas.
B.  Anak Tunagrahita sedang.
1.    Pengertian.
            Menurut Sutjihati Somantri (2005: 107 ) anak tunagrahita sedang disebut juga embisil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (Wisc). Anak terbelakang mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai lebih 7 tahun. Anak tunagrahita sedang dapat di didik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan dan sebagainya.
            Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan berhitung walaupun anak tunagrahita sedang masih dapat menulis secara sosialnya misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya dan lain-lain. Masih dapat di didik mengurus diri seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak tunagrahita sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Anak tunagrahita sedang juga masih dapat bekerja di tempat kerja terlindung (Sheltered Workshop) (Maria J. Wantah, 2007: 18).
            Berdasarkan batasan tersebut, maka dapat diambil pengertian bahwa anak tunagrahita sedang adalah anak yang masih dapat diberi respon dengan latihan aktivitas yang sederhana, dapat mengurus diri, dapat melindungi diri dari bahaya dan dapat bekerja ringan tetapi tetap dalam pengawasan karena tanpa pengawasan akan bekerja secara asal. Endang Rochyadi (2005: 116) mengemukakan perhatian anak tunagrahita sedang dalam belajar tidak dapat bertahan lama mudah berpindah ke obyek lain yang terkadang sama sekali tidak menarik atau tidak bermakna. Sehingga mengganggu aktifitas belajarnya, bahkan anak sendiri tidak menyadari apa yang dilakukannya. Rendahnya perhatian anak dalam belajar akan menghambat daya ingat.
            Berdasarkan dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita sedang mudah beralih perhatiannya ke hal yang dianggapnya lebih menarik dan keterbatasannya dalam kemampuan intelektualnya sehingga kemampuan dalam bidang akademik sangat bersifat sederhana. Demikian juga berkaitan dengan pembelajaran matematika yang mengalami hambatan atau kesulitan dan lambat beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari.

2.    Karakteristrik Anak Tunagrahita Sedang.
            Menurut Mumpuniarti (2007: 25) adapun karakteristik pada aspek - aspek individu anak tunagrahita sebagai berikut:
a. Karakter fisik, pada tingkat hambatan mental sedang lebih menampakkan kecacatannya. Penampakan fisik jelas terlihat karena pada tingkat ini banyak dijumpai tipe down syndrome dan brain damage. Koordinasi motorik lemah sekali dari penampilannya menampakkan sekali sebagai anak terbelakang.
b. Karakteristik psikis, pada umur dewasa anak tunagrahita baru mencapai kecerdasan setaraf anak normal umur 7 tahun atau 8 tahun. Anak nampak hampir tidak mempunyai inisiatif, kekanak - kanakan, sering melamun atau sebaliknya hiperaktif.
c.  Karakteristik sosial, banyak diantara anak tunagrahita sedang yangsikap sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang dan nampak tidak mempunyai rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
            Menurut Moh. Amin (1995: 39) mengatakan bahwa anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Anak tunagrahita sedang pada umumnya belajar secara membeo. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang hampir selalu tergantung dengan orang lain tetapi dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Anak tunagrahita sedang masih mempunyai potensi untuk belajar memelihara diri dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki nilai ekonomi. Jadi karakteristik anak tunagrahita secara umum dalam hal kecerdasan, social, fungsi mental, dorongan emosi dan kepribadian serta organism dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Kecerdasan.
Tingkat kecerdasan anak tunagrahita sedang jelas dibawah rata-rata
anak normal yang seusia, kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rite learning) bukan dengan pengertian dan sukar memahami masalah.
b. Sosial.
Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara dan memimpin dirinya sendiri, untuk kepentingan dirinya sendiri sangat
tergantung pada bantuan orang lain, selalu ditunjukkan terus apa yang akan dikerjakan, tanpa bimbingan dan pengawasan mereka dapat terjerumus ke dalam tingkah laku terlarang terutama mencuri, merusak dan pelanggaran seksual.
c. Fungsi Mental.
Mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, cepat
beralih. Kurang tangguh dalam menghadapi tugas, pelupa dan sukar
mengungkapkan ingatan dan mudah bosan.
d. Dorongan dan Emosi
Dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya. Anak yang berat ketunagrahitaanya hampir - hampir tidak dapat memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri, kehidupan emosinya sangat lemah, mereka jarang sekali menghayati perasaan tanggungjawab dan hak sosialnya. Dorongan biologisnya dapat berkembang tetapi penghayatannya terbatas pada perasaan senang, takut, marah dan benci.
e. Bidang Akademis.
Mereka sulit mencapai prestasi dalam bidang akademis membaca, menulis dan berhitung yang problematis, tetapi dapat dilatih dalam hal yang sederhana sekedar diperkenalkan membaca dan menulis namanya sendiri dan mengenal angka.
f. Organisme dan Kepribadian.
Mereka tidak mampu mengontrol dan mengarahkan dirinya sehingga
segala sesuatu yang terjadi pada dirinya tergantung pengarahan orang lain. Dilihat dari struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang bila dibandingkan dengan anak normal, sikap dan gerak lagaknya kurang indah, badannya relatif kecil seperti kurang sehat dan kurang mempunyai daya tahan.
                 Berdasarkan pendapat dan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan tentang karakteristik anak tunagrahita sedang di antaranya adalah anak tunagrahita sedang hampir tidak dapat mempelajari pelajaran akademis, pada umumnya belajar secara membeo, mereka masih dapat dilatih mengerjakan beberapa pekerjaan yang sederhana, tetapi memerlukan latihan secara terus menerus. Secara fisik lebih menampakkan ketunaannya,nkoordinasi motoriknya lemah sekali dan penampilannya menunjukkan sebagai anak terbelakang, anak hampir tidak mempunyai inisiatif, kekanak -kanakan atau sebaliknya hiperaktif, rasa sosialnya kurang baik, rasa etisnya juga kurang, tidak mempunyai rasa terima kasih dan rasa belas kasihan rendah, kurang mampu mengkoordinasikan gerak tubuhnya, tidak  dapat berkonsentrasi, cepat bosan dan juga perkembangan jiwanya dan fisiknya terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Landasan teoritis anak Tunagrahita Sedang

BAB II LANDASAN TEORITIS Anak Tunagrahita Sedang A.     Anak Tunagrahita. 1.     Pengertian. Anak tunagrahita dikenal dalam ...