BAB II
LANDASAN TEORITIS
Anak Tunagrahita Sedang
A.
Anak Tunagrahita.
1.
Pengertian.
Anak tunagrahita dikenal
dalam bermacam-macam istilah baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa
asing. Istilah yang dikemukakan oleh Ingals (1978) dalam Astati (2010:5) yaitu:
“mental retardation,
mental deficiency, mentally defective, mentally handicapped, feeblemineness,
mental subnormality, amentia, and oligophrenia”.
Salah satu definisi
yang dikenal dan diterima secara luas adalah definisi yang dikemukakan American Association on Mental Deficiency (AAMD)
yang dikutip Grossman (Hallahan & Kauffman, 1988) dalam Astati (2010:14)
bahwa “Ketunagrahitaan mengacu pada fungsi intelektual umum secara nyata
(signifikan) berada di bawah rata-rata normal bersamaan dengan kekurangan dalam
tingkah laku penyesuaian dan semua ini berlangsung pada masa perkembangan”.
Berdasarkan
pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa tunagrahita mengacu pada fungsi
intelektual umum yang nyata di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan
dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan (sebelum
usia 18 tahun). Ada tiga kategori untuk menentukan seseorang dapat dikatakan
tunagrahita yaitu: pertama kecerdasan di bawah rata-rata, kedua ketidakmampuan
dalam menyesuaikan diri, dan yang terakhir ketunagrahitaan itu terjadi pada
usia perkembangan.
2.
Karakteristrik.
Anak
tunagrahita memiliki beberapa karakteristik yang tentunya berbeda dengan anak
normal pada umumnya. Hal ini menjadi penghambat anak tunagrahita dalam
melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari, karakteristik ini juga dapat
digunakan sebagai acuan guru dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak
tunagrahita.
Karakteristik anak
tunagrahita pada umumnya dikemukakan oleh Page (Suhaeri; 1979:25) dalam Astati
& Mulyati (2010:15) sebagai berikut:
a.
Kecerdasan,
kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak.
Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (Rote learning) bukan dengan pengertian. Dari hari ke hari dibuatnya
kesalahan-kesalahan yang sama. Perkembangan mentalnya mencapai puncak pada usia
yang masih muda.
b.
Sosial, dalam
pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara dan memimpin diri. Waktu
masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus; disuapi makanan,
dipasangkan dan ditanggali pakaian dan sebagainya; disingkirkan dari bahaya,
diawasi waktu bermain dengan anak lain, bahkan ditunjuki terus menerus yang
harus dikerjakan. Mereka bermain dengan teman-teman yang lebih muda
daripadanya, tidak dapat bersaing dengan teman sebaya. Setelah dewasa
kepentingan ekonominya sangat tergantung pada bantuan orang lain. Tanpa
bimbingan dan pengawasan mereka dapat terjerumus kedalam tingkah laku yang
terlarang terutama mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual. Dilihat dasi
sosial age (SA) mereka juga sangat
kecil SQnya. (SQ adalah singkatan dari kata “Social
Quotient” seperti halnya IQ untuk kecerdasan).
c.
Fungsi-fugsi mental
lain, mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian. Jangkauan
perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam
menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu
ingatan. Kurang mampu membuat asosiasi-asosiasi dan sukar mebuat kreasi-kreasi
baru.
d.
Dorongan dan emosi,
perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan
tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Anak yang berat dan sangat berat tingkat
ketunagrahitaannya, hampir-hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk
mempertahankan diri. Kalau mereka lapar atau haus, mereka tidak menunjukan
tanda-tandanya. Demikian pula kalau mereka mendapat perangsang yang menyakitkan
hampir-hampir tidak memiliki kemampuan menjauhkan dirinya dari perangsang
tersebut. Kehidupan emosiya lemah. Jika telah mencapai umur belasan tahun
dorongan biologisnya biasanya berkembang dengan baik kecuali hubungan heteroseksual tetapi
kehidupan penghayatannya terbatas pada perasaan-perasaan; senang, takut,marah,
benci dan kagum. Anak yang tidak terlalu berat ketunagrahitaannya mempunyai
kehdupan emosi yang hampir sama dengan anak normal tetapi kurang kaya, kurang
kuat dan kurang banyak mempunyai keragaman. Mereka jarang sekali menghayati
perasaan banga, tanggungjawab dan hak sosial.
e.
Organisme, baik struktur maupun fungsi
organisme pada umumnya kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan
berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerak lagaknya
kurang indah. Diantaranya banyak yang mengalami cacat bicara. Mereka kurang
mampu membedakan persamaan dan perbedaan. Pendengaran dan penglihatannya banyak
yang kurang sempurna. Anak yang berat apalagi sangat berat ketunagrahitaannya
kurang rentan dalam perasaan sakit, bau yang tidak enak dan makanan yang tidak
enak. Badannya relatif kecil seperti kurang segar. Tenaganya kurang, cepat
letih, kurang mempunyai daya tahan.
Sejalan dengan pemaparan diatas dapat peneliti
simpulkan bahwa pendidikan anak tunagrahita baik ringan, sedang maupun berat
harus disesuaikan dengan kemampuan anak karena anak tunagrahita memiliki daya
ingat di bawah rata-rata begitupun dalam segi emosional dan sosialisasi mereka
mengalami hambatan untuk itu maka sebaiknya guru harus lebih sering mengajak
anak tunagrahita berkomunikasi dengan masyarakat sekitar atau dengan anak
normal seusianya. Agar di masa depan anak tidak terlalu mengalami kesulitan dalam bergaul dengan masyarakat dimana mereka tinggal.
3.
Klasipikasi.
Pengklasifikasian
anak tunagrahita perlu dilakukan
untuk mempermudah
dalam memberikan pelayanan pendidikannya. Mereka dapat dibedakan dalam beberapa
kelompok berdasarkan taraf kemampuan intelegensinya. Berdasarkan taraf
intelegensinya, American Association on
Mental Deficiency, Hallahan (1982:43)
dalam Astati (2010:15) mengelompokkan sebagai berikut:
Tabel
2.1
Klasifikasi anak
tunagrahita
Hallahan (1982:43) dalam Astati (2010:15)
Kelompok
|
Tingkat IQ
|
Tunagrahita
ringan
|
55 – 70
|
Tunagrahita
sedang
|
40 – 55
|
Tunagrahita
berat
|
25 – 40
|
Tunagrahita
sangat berat
|
<25
|
Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa anak
tunagrahita terdiri dari anak tunagrahita ringan yang mempunyai tingkat
kecerdasan antara 55 – 70, anak tunagrahita sedang yang mempunyai tingkat
kecerdasan antara 40 - 55, anak tunagrahita berat yang mempunyai tingkat kecerdasan
antara 25 – 40 dan anak tunagrahita sangat berat yang mempunyai tingkat
kecerdasan kurang dari 25. Menurut Somantri (2012:121) bahwa: “Pengelompokkan
pada umumnya didasarkan pada taraf intelegensinya, yang terdiri dari
keterbelakangan ringan, sedang dan berat”.
Pengklasifikasian anak tunagrahita sesuai tingkat intelegensinya
menurut Somantri (2012:121) sebagai berikut:
a.
Anak Tunagrahita Ringan
Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini
memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet,
sedangkan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat
belajar membaca, menulis dan berhitung sederhana.
b.
Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita
sedang disebut juga imbesil dan
memiliki IQ 51-36 pada skala Binet dan 54-40 pada skala Weschler (WISC). Mereka
dapat dididik mengurus diri sendiri, melindungi diri dari bahaya.
c.
Tunagrahita Berat
Kelompok anak tunagrahita berat disebut
idiot. Kelompok ini memiliki IQ 32-20 pada skala Binet dan 39-25 pada skala
Weschler (WISC). Mereka memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan dan lain-lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intelegensi
tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi tunagrahita ringan, sedang dan
berat.
4.
Pendidikan.
Anak tunagrahita memiliki kebutuhan
khusus untuk mengoptimalkan potensinya. Astati dan Mulyati (2010:25) tentang kebutuhan khusus mengemukakan sebagai berikut:
a.
Kebutuhan dalam layanan pembelajaran.
Anak-anak tunagrahita memiliki potensi dalam belajar dan erat
kaitannya dengan berat dan ringannya
ketunagrahitaan. Kebutuhan khusus yang dimaksud adalah:
1) Kebutuhan layanan
pengajaran yang sama dengan siswa lainnya. Mereka hanya membutuhkan tambahan
pengertian guru dan teman-temannya, tambahan waktu untuk dapat mempelajari sesuatu.
2)
Kebutuhan layanan pembelajaran yang
sangat khusus mereka membutuhkan layanan, seperti program stimulasi dan
intervensi dini meliputi : terapi bermain, okupasi, terapi bicara, kemampuan memelihara diri dan
belajar akademik.
b.
Kebutuhan akan penciptaan lingkungan
belajar.
Mereka membutuhkan
lingkungan belajar seperti pengaturan tempat duduk yang disesuaikan dengan kondisi anak tunagrahita.
c.
Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan bina diri.
Anak tunagrahita membutuhkan konteks dan orientasi cerita
yang dimulai dari hal yang konkret
kemudian menuju ke hal abstrak.
d.
Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan
sosial dan emosi.
Dalam hal berinteraksi membutuhkan hal-hal ini: kebutuhan
untuk
merasa menjadi bagian dari yang lain, kebutuhan untuk menemukan perlindungan
dari label yang negativ, kebutuhan akan kenyamanan sosial, dan kebutuhan untuk
menghilangkan kebosanan dengan adanya stimulasi sosial.
e.
Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan
keterampilan.
Beberapa keunggulan
tunagrahita yang akan membawa mereka pada hubungannya dengan orang lain
meliputi : 1) spontanitas yang wajar dan positif, 2) kecenderungan untuk
merespon orang lain dengan baik dan hangat, 3) kecenderungan merespon pada
orang lain dengan jujur, dan 4) kecenderunagn untuk mempercayai orang lain.
Berdasarkan kutipan di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa anak tunagrahita ringan mempunyai kebutuhan yang sama halnya dengan anak
normal. Untuk memenuhi kebutuhannya, anak
tunagrahita perlu mendapatkan perhatian secara khusus agar mereka memperoleh
kebutuhan-kebutuhan sebagaimana diuraikan di atas.
B. Anak Tunagrahita sedang.
1.
Pengertian.
Menurut Sutjihati Somantri (2005:
107 ) anak tunagrahita sedang disebut juga embisil. Kelompok ini memiliki IQ
51-36 pada skala Binet dan 54-40 menurut skala Weschler (Wisc).
Anak terbelakang mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai lebih 7
tahun. Anak tunagrahita sedang dapat di didik mengurus diri sendiri, melindungi
diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya,
berlindung dari hujan dan sebagainya.
Anak tunagrahita sedang sangat sulit
bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca dan
berhitung walaupun anak tunagrahita sedang masih dapat menulis secara sosialnya
misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya dan lain-lain. Masih dapat di
didik mengurus diri seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan
pekerjaan rumah tangga dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak tunagrahita
sedang membutuhkan pengawasan yang terus menerus. Anak tunagrahita sedang juga
masih dapat bekerja di tempat kerja terlindung (Sheltered Workshop)
(Maria J. Wantah, 2007: 18).
Berdasarkan batasan tersebut, maka
dapat diambil pengertian bahwa anak tunagrahita sedang adalah anak yang masih
dapat diberi respon dengan latihan aktivitas yang sederhana, dapat mengurus
diri, dapat melindungi diri dari bahaya dan dapat bekerja ringan tetapi tetap
dalam pengawasan karena tanpa pengawasan akan bekerja secara asal. Endang
Rochyadi (2005: 116) mengemukakan perhatian anak tunagrahita sedang dalam
belajar tidak dapat bertahan lama mudah berpindah ke obyek lain yang terkadang
sama sekali tidak menarik atau tidak bermakna. Sehingga mengganggu aktifitas
belajarnya, bahkan anak sendiri tidak menyadari apa yang dilakukannya.
Rendahnya perhatian anak dalam belajar akan menghambat daya ingat.
Berdasarkan dari berbagai pengertian
di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita sedang mudah beralih
perhatiannya ke hal yang dianggapnya lebih menarik dan keterbatasannya dalam
kemampuan intelektualnya sehingga kemampuan dalam bidang akademik sangat
bersifat sederhana. Demikian juga berkaitan dengan pembelajaran matematika yang
mengalami hambatan atau kesulitan dan lambat beraktifitas dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Karakteristrik
Anak Tunagrahita Sedang.
Menurut
Mumpuniarti (2007: 25) adapun karakteristik pada aspek - aspek individu anak
tunagrahita sebagai berikut:
a. Karakter fisik,
pada tingkat hambatan mental sedang lebih menampakkan kecacatannya. Penampakan
fisik jelas terlihat karena pada tingkat ini banyak dijumpai tipe down
syndrome dan brain damage. Koordinasi motorik lemah sekali
dari penampilannya menampakkan sekali sebagai anak terbelakang.
b. Karakteristik psikis,
pada umur dewasa anak tunagrahita baru mencapai kecerdasan setaraf anak normal
umur 7 tahun atau 8 tahun. Anak nampak hampir tidak mempunyai inisiatif,
kekanak - kanakan, sering melamun atau sebaliknya hiperaktif.
c. Karakteristik sosial, banyak diantara anak
tunagrahita sedang yangsikap sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang dan
nampak tidak mempunyai rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
Menurut Moh. Amin (1995: 39)
mengatakan bahwa anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari
pelajaran-pelajaran akademik. Anak tunagrahita sedang pada umumnya belajar
secara membeo. Perkembangan bahasanya lebih terbatas dari anak tunagrahita
ringan. Anak tunagrahita sedang hampir selalu tergantung dengan orang lain
tetapi dapat membedakan bahaya dan bukan bahaya. Anak tunagrahita sedang masih
mempunyai potensi untuk belajar memelihara diri dan menyesuaikan diri terhadap
lingkungan dan dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki nilai
ekonomi. Jadi karakteristik anak tunagrahita secara umum dalam hal kecerdasan,
social, fungsi mental, dorongan emosi dan kepribadian serta organism dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. Kecerdasan.
Tingkat kecerdasan anak tunagrahita
sedang jelas dibawah rata-rata
anak normal yang seusia, kapasitas
belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih
banyak belajar dengan cara membeo (rite learning) bukan dengan
pengertian dan sukar memahami masalah.
b. Sosial.
Dalam pergaulan mereka tidak dapat
mengurus, memelihara dan memimpin dirinya sendiri, untuk kepentingan dirinya
sendiri sangat
tergantung pada bantuan orang lain,
selalu ditunjukkan terus apa yang akan dikerjakan, tanpa bimbingan dan
pengawasan mereka dapat terjerumus ke dalam tingkah laku terlarang terutama
mencuri, merusak dan pelanggaran seksual.
c. Fungsi Mental.
Mereka mengalami kesukaran dalam
memusatkan perhatian, cepat
beralih. Kurang tangguh dalam menghadapi
tugas, pelupa dan sukar
mengungkapkan ingatan dan mudah bosan.
d. Dorongan dan Emosi
Dorongan emosi anak tunagrahita
berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya. Anak yang berat
ketunagrahitaanya hampir - hampir tidak dapat memperlihatkan dorongan untuk
mempertahankan diri, kehidupan emosinya sangat lemah, mereka jarang sekali
menghayati perasaan tanggungjawab dan hak sosialnya. Dorongan biologisnya dapat
berkembang tetapi penghayatannya terbatas pada perasaan senang, takut, marah
dan benci.
e. Bidang Akademis.
Mereka sulit mencapai prestasi dalam
bidang akademis membaca, menulis dan berhitung yang problematis, tetapi dapat
dilatih dalam hal yang sederhana sekedar diperkenalkan membaca dan menulis
namanya sendiri dan mengenal angka.
f. Organisme dan Kepribadian.
Mereka tidak mampu mengontrol dan
mengarahkan dirinya sehingga
segala sesuatu yang terjadi pada dirinya
tergantung pengarahan orang lain. Dilihat dari struktur maupun fungsi organisme
pada umumnya kurang bila dibandingkan dengan anak normal, sikap dan gerak
lagaknya kurang indah, badannya relatif kecil seperti kurang sehat dan kurang
mempunyai daya tahan.
Berdasarkan pendapat dan
penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan tentang karakteristik anak
tunagrahita sedang di antaranya adalah anak tunagrahita sedang hampir tidak
dapat mempelajari pelajaran akademis, pada umumnya belajar secara membeo,
mereka masih dapat dilatih mengerjakan beberapa pekerjaan yang sederhana,
tetapi memerlukan latihan secara terus menerus. Secara fisik lebih menampakkan
ketunaannya,nkoordinasi motoriknya lemah sekali dan penampilannya menunjukkan sebagai
anak terbelakang, anak hampir tidak mempunyai inisiatif, kekanak -kanakan atau
sebaliknya hiperaktif, rasa sosialnya kurang baik, rasa etisnya juga kurang,
tidak mempunyai rasa terima kasih dan rasa belas kasihan rendah, kurang mampu
mengkoordinasikan gerak tubuhnya, tidak dapat
berkonsentrasi, cepat bosan dan juga perkembangan jiwanya dan fisiknya
terlambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar